Mudik Lebaran Tak Hanya Sekedar Melepas Kangen dan Nostalgia, Tapi Juga Untuk Memperoleh Energi Baru Dalam Semangat Hidup dan Kehidupan


 Jacob Ereste :

Tradisi -INTELPOS | atau bahkan budaya pulang ke udik atau mudik -- jelas merupakan produk budaya masyarakat urban yang ada di perkotaan untuk sementara kembali ke kampung halaman tempat asalnya semula. Masyarakat urban dari berbagai pelosok negeri yang ada di Indonesia, jelas mencerminkan masih kuatnya akar budaya daerah dari berbagai asal tersebut yang membangun budaya masyarakat perkotaan yang khas. Lebih bersifat individualistik, sehingga mendorong kesadaran kolektif mereka yang berasal dari satu daerah membangun kelompok dan komunitas agar dapat sedikit mengurangi ketegangan dalam aktivitas maupun pekerjaan sehari-hari di perkotaan yang terasa suntuk dan mungkin juga membosankan.


Begitulah semangat dan gairah pulang mudik ke kampung halaman menjadi begitu seru dan menyenangkan untuk dilakukan. Kendati dapat dipastikan ke mana saja arah dari arus mudik di Indonesia ini resikonya harus siap menghadapi kemacetan, antrean yang panjang. Bahkan tidak sedikit harus dibayar dengan ongkos yang mahal, akibat perusahaan jasa angkutan barang dan orang mengambil kesempatan di tengah keperluan warga masyarakat yang memerlukannya untuk pulang mudik atau sekedar mengirim bingkisan dengan cepat dan tempat waktu sampainya di tempat.


Pengalaman dari suasana arus mudik pada 5 hingga 10 tahun silam di Indonesia telah membuktikan kemacetan disepanjang ruas jalan di pulau Jawa maupun pada lintasan antar pulau dari Sumatra ke Jawa atau sebaliknya seperti dari Sulawesi dan Kalimantan ke menuju daerah lain. Pendek kata, suasana riuh dan hilir mudik seakan tak tidak berujung sepekan menjelang lebaran dan sebaliknya -- sepekan kemudian setelah perayaan hari raya lebarai usai saat arus balik mudik lebaran seperti gelombang  tsunami menuju kota yang ada di seluruh Indonesia.


Tapi yang pasti, nilai-nilai sakral dan muatan spiritual dari acara pulang mudik terutama pada saat perayaan hari Raya Idhul Fitri -- sungguh mengesankan. Karena nostalgia indah semasa dulu di kampung halaman dapat kembali tersibak keindahan dan romantika historikalnya yang masih melekat dalam ingatan.


Nilai-nilai spiritual yang sakral dalam acara mudik di kampung halaman sungguh membahagiakan.  Karena itu, bagi mereka yang tidak bisa melakukan acara pulang mudik pada saat hari hari akan sangat bersedih, sebab yang tampak dalam penerawangan imajinasi hanya sekekebat -- tidak nyata -- apalagi hanya sebatas infornasi yang bisa diperoleh melalui media telekomunikasi berbasis internet, sekali pun bisa bertatap wajah, toh rasa kangen tetap tersekat oleh jarak yang tidak bersentuhan secara fisik dan nyata untuk dirasakan.


Pulang mudik, tidak hanya sebatas untuk menautkan asal usul serta mengenang berbagai kisah yang pernah dilalui semasa beberapa tahun silam bersama sanak, keluarga dan tetangga serta kawan-kawan yang telah bercerai berai merantau ke berbagai tempat dan daerah, untuk kemudian berbagi pengalaman dan bingkisan yang diharap dapat menanamkan kesan bahwa kesetiaan dan jalinan perkawanan selama berada di kampung halaman dulu adalah keindahan yang membahagiakan. Maka itu beragam buah tangan menjadi kebahagiaan untuk dibagikan. Bahkan tak jarang semacam acara  khusus -- pertemuan dan pesta atau semacam acara syukuran perlu dilakukan untuk menandai ekspresi puja dan puji kepada Tuhan yang telah melimpahkan ruzki serta kesehatan, keselamatan hingga kebahagiaan yang tiada terkira nilainya.


Saat mudik di kampung halaman merupakan momentum untuk membangun hubungan kembali dengan keluarga, saudara, tetangga serta kawan sepermainan pada masa lalu saat masih berada di kampung halaman dahulu. Dan kini -- setekah sekian tahun tenggelam hiruk pikuk di tempat perantauan, saat mudik merupakan ku kesempatan untuk memulihkan kembali ikatan persaudaraan dan perkawanan pada masa silam yang sudah tenggelam.


Dalam kesempatan mudik pulang ke kampung halaman dalam perspektif spiritual dapat mengisi kekosongan akibat dari jangka waktu yang terputus selama berada di perantauan dengan mengjungi tempat yang memiliki nilai sejarah dalam hidup kita di kediaman Sang Kakek atau Embah Buyut kita yang selalu memberi kekuatan bathin yang memang tidak bisa dicerna oleh akal. Tapi ikatan bathin itu -- kepada semua leluhur -- dapat dirasakan dalam getaran spiritual yang selalu terjaga dan terasah vibrasi frekuensinya.

 

Dari pengalaman mudik pulang ke kampung halaman jelas dapat dirasakan memperkuat kesabaran dan ketabahan, setidaknya dalam perjalanan -- mrskipun singkat dan pendek waktunya -- dapat dipahami betapa tinggi dan luhurnya nilai-nilai ikatan setiap orang terhadap leluhur dan sejarah tempat asalnya untuk dihayati dan dipahami mempunyai ikatan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Kendati perubahan besar selama di perantauan sudah dilakukan dengan lompatan-lompatan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, sehingga mengubah cara dan gaya hidup yang sangat jauh berbeda.


Dalam konteks ini pun, pulang mudik -- sebagai bagian dari introspeksi diri -- sangat penting dan perlu untuk meredakan kejumawahan termasuk kepongahan yang telah diselimuti oleh keberhasilan--kesuksesan--- yang tidak perlu dipamerkan. Kesadaran spiritual serupa ini menjadi penting dan perlu terjaga dalam sikapw ugahari, bahwa di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi dari langit yang mungkin sudah kita lintasi. 


Hanya dengan kesadaran dan kecerdasan spiritual serupa itu, saat kematian pun bisa memperoleh tempat untuk selalu diingat. Bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya sangat singkat dan sementara sifatnya menurut tuntunan dan petunjuk agama. Sehingga  hasrat dan keinginan untuk berbuat baik kepada sesama manusia dapat terus dilakukan tanpa henti sampai ke liang kubur.


Demikian juga saat pulangudik ke kampung halaman untuk memasuki kesadaran alam yang indah -- yang pernah tercatat dalam memori ingatan pada masa lalu -- akan sangat membantu membangun kesadaran alam yang baru, bahwa sesungguhnya setiap manusia adalah bagian dari kelengkapan alam yang harmoni dan tidak boleh dirusak oleh sikap usil dan tamak. Sehingga rasa syukur yang mampu diperoleh dari momentum pulang mudik dapat semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Dari momen pulang mudik pun,  upaya untuk mengembangkan sikap dan sifat kebersamaan, solidaritas, tenggang rasa, empati dan perhatian terhadap semua keluarga dan tetangga serta kawan pada masa lalu di kampung halaman dapat terjalin kembali dan terjaga dengan nilai-nilai kemuliaan manusia dalam bingkai tradisi, budaya atau bahkan peradaban baru manusia dari satu desa yang menjadi warga urban di perkotaan atau di diperantauan. Jadi, hasrat pulang mudik ke kampung halaman adakah hasrat manusia yang sehat, manusia yang tidak lupa pada asal usul dari tempat kelahiran, atau saat awal mencercap hidup pada masa awal keberadaan di dunia ini.


Karena itu kegembiraan saat pulang mudik dan balik mudik bagi siaia saja yang menjalaninya akan memperoleh semacam pencerahan, kesegaran dan semangat hidup yang baru untuk kembali bertarung dengan pekerjaan dan aktivitas rutin yang telah ditekuni dan nenjadi pilihan untuk menjalani hidup ini.



Banten, 14 Maret 2026

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال